Kisah Sahabat Umar Bin Khattab – Umar Bin Khattab – Sahabat Nabi Umar Bin Khattab – Khalifah Umar Bin Khattab

Kisah Sahabat Nabi Umar Bin Khaththab Ra. Khulafaur Rasyidin ke Dua. Sahabat Umar Bin Khaththab Ra menjabat sebagai menggantikan Abu Bakar Ra yang telah Wafat. Sebagai Khalifah, kesibukan beliau pun banyak terkuras untuk mengurusi keperluan umat muslim
Kisah awal keislaman sahabat umar bin khattab
Hampir semua umat islam pasti akan mengenal sosok Umar bin Khaththab RA. Mulai dari Keberanian, keadilan, kecerdasan, sikap kritis, keras dan ketegasannya, sekaligus kelembutan, kesedihan dan hati yang mudah tersentuh. Sifat sifat tersebut adalah dua kondisi berlawanan yang menyatu dalam pribadi Umar. Terutama keberaniannya, telah terkenal sejak dia belum memeluk islam, jagoan dan ahli berkelahi yang selalu memenangkan pertandingan adu kekuatan di Pasar Ukazh. Namun keberanian dan kekuatan ini pulalah yang akhirnya mengantarkan pada Hidayah Allah SWT. Ketika membentur keberanian dan kekuatan iman adiknya, Fathimah binti Khaththab.
Keinginan umar bin khattab untuk membunuh rasullulah
Umar pergi ke rumah Al Arqam, tempat Rasulullah ﷺ mengajarkan islam kepada sahabat-sahabat beliau. Di tengah perjalanan ia bertemu Nu’aim bin Abdullah, yang menanyakan kepergiannya dengan pedang terhunus. Begitu mengetahui niatnya untuk membunuh Rasullullah ﷺ, Nu’aim justru mencela Umar, “Hendaknya engkau meluruskan urusan keluargamu dulu sebelum urusan Bani Manaf. Sesungguhnya adikmu sendiri Fathimah binti Khaththab dan suaminya yang juga anak pamanmu, Sa’id bin Zaid telah mengikuti ajaran Muhammad, merekalah yang harus engkau selesaikan urusannya.”
Betapa geramnya Umar mendengar penjelasan Nu’aim bin Abdullah. Ia pun membelokkan langkahnya menuju rumah Sa’id bin Zaid dengan kemarahan yang memuncak. Saat itu, di rumah Sa’id juga ada Khabbab ibnu Aratt yang sedang mengajarkan ayat-ayat Al Qur’an pada mereka. Mendengar kedatangan Umar, Khabbab langsung bersembunyi, Sa’id membukakan pintu dan Fathimah menyembunyikan lembaran mushaf Al Qur’an.
Umar menemui keluarga adiknya Fatimah Binti Khattab
Begitu melihat Sa’id, kemarahan Umar tidak bisa Ia bendung lagi. Seolah kemarahannya kepada Nabi ﷺ ia tumpahkan semua kepada adik iparnya tersebut. Umar pun membentak Sa”id sebagai murtad dan memukulnya hingga terjatuh. Fathimah mendekat untuk membela suaminya, tapi Umar pun memukul wajahnya. Sungguh keadaan yang mengenaskan dan membahayakan bagi kedua suami istri tsb. Umar sudah menduduki dada Sa’id, satu pukulan telak dari jagoan Ukazh itu bisa jadi akan membunuhnya.
Namun tiba-tiba terdengar pekikan keras dari Fathimah, “Hai musuh Allah, kamu berani memukul saya karena saya beriman kepada Allah…! Hai Umar, perbuatlah apa yang engkau suka, karena saya akan tetap bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasullullah…!”
Umar tersentak bagai tersengat listrik, pekikan itu seakan menembus ulu hatinya… Terkejut dan heran. Umar bin Khaththab adalah seorang lelaki yang sering banyak orang lukiskan : “Jika ia berbicara, maka orang akan terpaksa mendengarkannya, jika berjalan, langkahnya cepat bagai dalam kejaran orang, jika berkelahi maka pukulannya adalah pukulan maut yang mematikan.”
Tetapi ternyata ada orang yang berani menentangnya, seorang wanita lagi, dan adiknya pula. Kekuatan apa yang bisa membuatnya berani menentang kalau tidak kekuatan yang Maha Hebat, kekuatan iman… Mulailah percik hidayah menghampirinya. Kemarahannya pun mereda. Ia kemudian meminta lembar-lembar Al Qur’an yang Fathimah pegang. Tetapi sekali lagi jagoan duel di Pasar Ukazh ini seakan tak berkutik. Ketika adiknya tsb. Berkata dengan tegas, “Tidak mungkin, ia tidak boleh tersentuh kecuali oleh orang-orang yang suci! Pergilah, mandilahlah dan bersuci..!!”
Turunya hidayah Allah SWT untuk umar
Bagai anak kecil yang penurut, Umarpun berlalu, sesaat kemudian kembali dengan jenggot yang mengucurkan air. Fathimah pun memberikan lembaran mushaf yang berisi Surah Thaha ayat 1 – 6. Makin kuatlah hidayah Allah membuka mata hatinya. Setelah ayat-ayat tersebut Ia baca, meluncurlah kata-kata dari mulutnya. “Tidak pantas bagi Allah yang ayat-ayatnya sebegini indahnya, sebegini mulianya mempunyai sekutu yang harus disembah, tunjukkanlah padaku dimana Muhammad?”
Sebuah pernyataan yang menunjukkan perubahan sikap dan keyakinannya selama ini terhadap Nabi ﷺ. Khabbab bin Aratt pun keluar dari persembunyiannya. Ia kemudian berkata, “Bergembiralah Umar, sesungguhnya Nabi telah bersabda tentang dirimu. Beliau berdoa : Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah satu dari dua Umar, Umar bin Hisyam (Abu Jahal) atau Umar bin Khaththab, dan engkau dipilih Allah untuk memperkuat Islam.”
Khabbab mengantarkan Umar ke rumah Al Arqam di dekat Shafa. Di sana Nabi ﷺ pun menemuinya. Beliau memegang ujung baju Umar dan berkata, “Masuklah kamu ke dalam Islam wahai Ibnu Al Khaththab. Ya Allah, berilah hidayah kepadanya!”
Umar pun bersyahadat, maka bertakbirlah para sahabat yang hadir. Dengan takbir yang bisa terdengar hingga sepanjang jalan di kota Mekkah, bahkan juga sampai ke Ka’bah. Benarlah doa Nabi ﷺ, keislaman Umar mengguncangkan kaum musyrik dan menorehkan kehinaan bagi mereka. Tetapi sebaliknya memberikan kehormatan, kekuatan dan kegembiraan bagi orang muslim.




